Rumah 150 Meter Persegi Bisa Jadi Seperti Apa? Ini Denah dan Fasadnya

Memiliki tanah seluas 150 meter persegi untuk dibangun rumah merupakan sebuah keuntungan tersendiri. Lahannya tidak terlalu kecil, tetapi juga tidak terlalu besar sehingga masih memungkinkan pemilik rumah mengatur ruang dengan cukup leluasa tanpa harus mengeluarkan biaya pembangunan yang berlebihan.

Namun, setelah memiliki tanah, pertanyaan yang biasanya muncul justru cukup sederhana: rumah 150 meter persegi bisa dibuat seperti apa?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana luas tanahnya.

Denah dan fasad rumah 150 meter persegi

Tanah 150 meter persegi bisa menghasilkan rumah yang sangat nyaman dengan tiga kamar tidur, rumah dua lantai dengan empat kamar tidur, atau rumah minimalis yang justru menyisakan halaman dan taman cukup luas. Semuanya bergantung pada kebutuhan penghuni, bentuk tanah, posisi jalan, arah matahari, aturan bangunan di lokasi tersebut, dan tentu saja anggaran.

Saya melihat persoalan ini sebagai sesuatu yang sering terjadi ketika seseorang mulai membangun rumah. Pada awalnya, yang terpikir biasanya adalah tampilan depan: ingin rumah modern, ada carport, fasad bagus, jendela besar, mungkin ada taman kecil.

Setelah denah mulai dibuat, barulah muncul persoalan lain.

Ternyata carport membutuhkan ruang. Kamar tidur membutuhkan ukuran yang nyaman. Dapur perlu area servis. Kamar mandi membutuhkan ventilasi. Rumah juga membutuhkan halaman. Belum lagi aturan sempadan bangunan yang membuat seluruh tanah 150 meter persegi tidak boleh begitu saja ditutup bangunan.

Karena itu, sebelum menentukan desain final, ada baiknya melihat rumah 150 meter persegi sebagai sebuah sistem yang saling berhubungan.

Budget memengaruhi luas dan spesifikasi bangunan. Orientasi matahari memengaruhi posisi ruang dan bukaan. Sirkulasi udara memengaruhi kenyamanan. Sementara aturan setempat menentukan seberapa jauh rumah boleh dibangun dari batas lahan dan jalan.

Dari sinilah tujuh pertimbangan berikut menjadi penting.

1. Tentukan Dahulu: 150 Meter Persegi Itu Luas Tanah atau Luas Bangunan?

Ini adalah hal pertama yang harus diluruskan.

Ketika seseorang mengatakan ingin membangun rumah 150 meter persegi, istilah tersebut bisa berarti dua hal yang berbeda.

Pertama, tanahnya memiliki luas 150 meter persegi.

Kedua, luas bangunan yang diinginkan adalah 150 meter persegi.

Keduanya menghasilkan desain yang berbeda.

Misalnya tanah berukuran 10 × 15 meter. Luas tanahnya memang 150 meter persegi. Tetapi bukan berarti seluruh 150 meter persegi tersebut dapat dibangun menjadi rumah.

Ada halaman depan, carport, area belakang, taman, jarak bebas bangunan, serta kemungkinan ketentuan KDB dan GSB yang berlaku di lokasi.

Jika pada akhirnya luas lantai dasar yang dapat dibangun sekitar 90–105 meter persegi, rumah tersebut masih bisa dibuat sangat nyaman.

Bahkan jika kebutuhan ruang lebih banyak, lantai dua dapat menjadi solusi.

Misalnya lantai pertama sekitar 90 meter persegi dan lantai dua sekitar 70 meter persegi. Total luas bangunan menjadi sekitar 160 meter persegi, tetapi jejak bangunannya tetap jauh lebih kecil daripada luas tanah.

Inilah mengapa jangan terburu-buru mengatakan, “Tanah saya 150 meter, berarti rumahnya harus 150 meter.”

Belum tentu.

Sering kali rumah yang sedikit lebih kecil justru terasa lebih nyaman karena memiliki halaman, cahaya alami, udara yang cukup, dan ruang luar untuk aktivitas keluarga.

2. Sesuaikan Rumah dengan Budget, Bukan Sebaliknya

Setelah mengetahui luas lahan, pertimbangan berikutnya adalah anggaran.

Ini bagian yang menurut saya paling menentukan.

Desain rumah yang terlihat bagus di gambar belum tentu bagus ketika harus dibangun. Banyak orang tergoda membuat rumah dengan plafon tinggi, kaca besar, fasad bertingkat, batu alam, permainan beton, atap kompleks, dan berbagai detail dekoratif.

Semuanya terlihat menarik.

Masalahnya muncul ketika RAB dibuat.

Biaya pembangunan bukan hanya dihitung dari luas lantai. Bentuk bangunan, struktur, jenis atap, kualitas kusen, pintu, sanitair, lantai, plafon, instalasi listrik, plumbing, hingga pekerjaan luar rumah ikut menentukan biaya akhir.

Karena itu, sebelum arsitek menggambar desain final, sebaiknya tentukan terlebih dahulu batas anggaran.

Misalnya Anda memiliki dana Rp500 juta. Jangan membuat desain yang secara realistis membutuhkan Rp800 juta lalu berharap bisa “dihemat” ketika pembangunan dimulai.

Lebih aman melakukan sebaliknya.

Tentukan kemampuan anggaran, kemudian desain rumah berdasarkan prioritas.

Struktur, pondasi, atap, waterproofing, instalasi listrik dan air, ventilasi, serta kualitas pekerjaan sebaiknya tidak dikorbankan hanya demi mengejar tampilan.

Finishing dapat ditingkatkan secara bertahap.

Rumah yang sederhana tetapi struktur dan sirkulasinya baik jauh lebih menyenangkan daripada rumah yang terlihat mewah tetapi panas, pengap, dan membutuhkan biaya perbaikan terus-menerus.

Untuk rumah 150 meter persegi, prinsip sederhananya adalah:

Jangan membangun semua yang Anda inginkan. Bangun terlebih dahulu semua yang benar-benar Anda butuhkan.

3. Tentukan Jumlah Kamar dan Prioritas Ruang

Tanah 150 meter persegi sebenarnya cukup fleksibel untuk rumah keluarga.

Untuk keluarga kecil, tiga kamar tidur sudah cukup ideal.

Misalnya satu kamar utama, dua kamar anak, dua kamar mandi, ruang keluarga, ruang makan, dapur, carport, dan area servis.

Jika keluarga membutuhkan lebih banyak ruang, rumah dua lantai dapat memberikan pilihan empat kamar tidur tanpa membuat seluruh lahan tertutup bangunan.

Namun ada satu hal yang sering terlupakan: jangan terlalu banyak membuat kamar.

Rumah bukan hanya kumpulan kamar tidur.

Jika semua ruang dibagi menjadi ruangan-ruangan kecil, rumah justru bisa terasa sempit meskipun luas bangunannya cukup besar.

Ruang keluarga, ruang makan, dan dapur dapat dibuat lebih terbuka. Dengan begitu, satu area dapat digunakan untuk berbagai aktivitas.

Pagi hari menjadi tempat sarapan. Siang hari menjadi area anak belajar. Sore hari menjadi tempat berkumpul. Malam hari menjadi ruang keluarga.

Fleksibilitas seperti ini sangat berharga.

Saya justru lebih menyukai rumah yang memiliki sedikit ruang tetapi setiap ruang memiliki fungsi jelas daripada rumah yang memiliki banyak ruangan tetapi sebagian besar jarang digunakan.

Pada rumah 150 meter persegi, setiap meter harus memiliki alasan mengapa ia dibangun.

4. Jangan Mengabaikan Arah Matahari

Ini salah satu hal yang baru terasa penting setelah rumah benar-benar ditempati.

Ketika masih melihat gambar denah, posisi jendela mungkin tampak sebagai persoalan estetika. Setelah rumah selesai, pemilik baru merasakan bahwa jendela yang salah posisi dapat membuat sebuah kamar terasa sangat panas pada sore hari.

Indonesia berada di wilayah tropis. Karena itu, matahari perlu dipertimbangkan sejak awal desain.

Sisi barat perlu mendapat perhatian khusus karena menerima paparan matahari sore yang cukup kuat.

Jika kamar tidur utama memiliki jendela besar langsung menghadap barat tanpa perlindungan, ruangan bisa menyimpan panas sampai sore bahkan setelah matahari mulai turun.

Akibatnya, penghuni lebih sering menyalakan AC atau kipas.

Solusinya tidak selalu harus berupa kaca kecil.

Kita bisa menggunakan kanopi, secondary skin, kisi-kisi, tanaman, teritis yang cukup, atau bahkan menempatkan ruang servis di sisi yang menerima panas lebih berat.

Dengan kata lain, orientasi matahari seharusnya ikut menentukan susunan ruangan.

Ruang yang membutuhkan kenyamanan tinggi seperti kamar tidur dan ruang keluarga sebaiknya mendapatkan perlindungan termal yang baik.

Sementara ruang seperti kamar mandi, gudang, tangga, atau area servis dapat dimanfaatkan sebagai zona penyangga terhadap panas.

Rumah yang baik bukan sekadar memiliki banyak jendela.

Rumah yang baik tahu di mana jendela harus diletakkan dan bagaimana cahaya matahari masuk ke dalam rumah.

5. Rancang Sirkulasi Udara Sejak Denah Pertama

Rumah di Indonesia membutuhkan perhatian serius terhadap ventilasi.

Saya pernah melihat rumah yang secara visual sangat bagus. Fasadnya modern, lantainya bagus, pintunya mahal, dan ruang keluarga cukup luas.

Tetapi begitu masuk, udara terasa berat.

Penyebabnya sederhana: rumah terlalu tertutup.

Tidak ada aliran udara yang jelas dari satu sisi ke sisi lainnya.

Padahal ventilasi silang atau cross ventilation dapat membuat rumah terasa jauh lebih nyaman.

Prinsipnya sederhana. Udara masuk melalui satu bukaan dan keluar melalui bukaan lainnya. Dengan demikian, udara tidak hanya berhenti di dalam ruangan.

Pada rumah 150 meter persegi, prinsip ini bisa diterapkan terutama pada ruang keluarga, kamar tidur, ruang makan, dan area yang sering digunakan.

Taman kecil juga dapat memberikan manfaat besar.

Misalnya tanah berukuran 10 × 15 meter tidak harus seluruhnya dipenuhi bangunan. Sebagian kecil area dapat digunakan sebagai taman belakang atau taman samping.

Taman tersebut bukan sekadar dekorasi.

Ia dapat menjadi sumber cahaya, udara, dan ruang visual yang membuat rumah terasa lebih lega.

Pada rumah dua lantai, void atau bukaan vertikal juga dapat dipertimbangkan jika anggaran dan desain memungkinkan.

Udara panas cenderung bergerak ke atas. Dengan perencanaan ventilasi yang baik, udara panas dapat diarahkan keluar melalui bukaan yang lebih tinggi.

Hasil akhirnya adalah rumah yang terasa lebih hidup.

6. Periksa Aturan Setempat Sebelum Denah Final

Ini bagian yang sering baru diperhatikan ketika gambar rumah sudah selesai.

Padahal seharusnya justru diperiksa di awal.

Tanah 150 meter persegi tidak otomatis berarti seluruhnya bebas dibangun.

Ada berbagai ketentuan yang mungkin berlaku di lokasi, termasuk KDB, KDH, GSB, ketentuan ketinggian bangunan, tata ruang, serta Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sesuai ketentuan yang berlaku.

KDB menentukan seberapa besar bagian lahan yang dapat digunakan sebagai tapak bangunan.

GSB berkaitan dengan jarak bangunan dari batas tertentu, terutama terhadap jalan.

Sementara ketentuan lainnya dapat memengaruhi ketinggian, ruang terbuka, maupun persyaratan teknis bangunan.

Karena aturan dapat berbeda berdasarkan wilayah dan kondisi lahan, jangan menggunakan angka umum sebagai patokan final.

Misalnya seseorang memiliki tanah 150 meter persegi dan berasumsi boleh membangun 100 persen lahan.

Ternyata setelah diperiksa, ada ketentuan sempadan dan ruang terbuka yang membuat luas tapak bangunan harus dikurangi.

Kalau pemeriksaan dilakukan setelah gambar arsitektur selesai, desain harus diulang.

Ini berarti waktu terbuang dan biaya desain bisa bertambah.

Karena itu urutannya lebih baik seperti ini:

cek aturan → ukur lahan → tentukan budget → analisis matahari dan angin → buat kebutuhan ruang → baru menetapkan desain.

Bukan sebaliknya.

7. Pikirkan Rumah untuk 10–20 Tahun ke Depan

Rumah bukan hanya untuk hari ini.

Ketika membangun rumah, usia penghuni bertambah, anak-anak tumbuh, kebutuhan berubah, dan kondisi ekonomi juga bisa berubah.

Karena itu rumah 150 meter persegi sebaiknya dirancang dengan sedikit fleksibilitas.

Misalnya salah satu kamar dapat berubah menjadi ruang kerja.

Ruang keluarga dapat tetap digunakan ketika anak-anak sudah besar.

Tangga untuk rumah dua lantai sebaiknya ditempatkan pada posisi yang tidak mengganggu sirkulasi utama.

Instalasi listrik dan air juga sebaiknya dirancang agar memungkinkan penambahan perangkat atau renovasi di masa depan.

Jika ada kemungkinan menambah lantai kedua beberapa tahun kemudian, struktur sejak awal perlu direncanakan oleh tenaga profesional agar memang memenuhi kebutuhan tersebut.

Hal kecil seperti posisi stop kontak pun sebenarnya penting.

Ketika rumah sudah ditempati, kebutuhan listrik biasanya jauh lebih banyak daripada yang dibayangkan saat menggambar denah.

Televisi, kulkas, microwave, mesin cuci, komputer, pompa air, perangkat internet, charger, dan berbagai peralatan rumah tangga membutuhkan titik listrik yang memadai.

Memikirkan semua ini sejak awal jauh lebih murah daripada membongkar dinding setelah rumah selesai.

Jadi, Rumah 150 Meter Persegi Sebaiknya Seperti Apa?

Jika saya berdiri di atas tanah 150 meter persegi dan harus menentukan rumah yang akan dibangun, saya tidak akan langsung menentukan bentuk fasad.

Saya akan mulai dari pertanyaan yang lebih mendasar.

Siapa yang tinggal di rumah ini?

Berapa kamar yang benar-benar dibutuhkan?

Berapa kendaraan yang harus ditampung?

Apakah membutuhkan taman?

Apakah ingin satu atau dua lantai?

Berapa budget yang tersedia?

Dari mana matahari pagi dan sore masuk?

Bagaimana arah angin?

Di mana posisi jalan?

Berapa luas bangunan yang diperbolehkan?

Setelah semua pertanyaan itu terjawab, barulah bentuk rumah mulai muncul.

Sebagai contoh, tanah 10 × 15 meter dapat dirancang menjadi rumah satu lantai dengan luas bangunan sekitar 90–110 meter persegi. Sisanya dapat digunakan untuk carport, taman depan, taman belakang, dan area servis.

Konsep seperti ini cocok bagi keluarga yang lebih mengutamakan kenyamanan dan kemudahan perawatan.

Pilihan kedua adalah rumah dua lantai.

Lantai pertama dapat digunakan untuk ruang publik dan satu kamar tidur. Lantai kedua digunakan untuk kamar tidur lainnya dan ruang keluarga.

Dengan cara ini, luas bangunan dapat mencapai sekitar 150–200 meter persegi, tergantung aturan, struktur, dan desain.

Rumah tetap berdiri di atas tanah 150 meter persegi, tetapi ruang hidupnya jauh lebih besar.

Jangan Mengejar Luas, Kejar Kenyamanan

Ada kesalahan pemikiran yang cukup umum ketika membangun rumah.

Orang sering menganggap rumah yang lebih besar pasti lebih nyaman.

Padahal tidak selalu demikian.

Rumah yang terlalu luas membutuhkan biaya pembangunan lebih besar, biaya listrik lebih besar, biaya perawatan lebih besar, dan lebih banyak waktu untuk membersihkannya.

Sebaliknya, rumah yang terlalu kecil membuat ruang gerak keluarga terbatas.

Titik idealnya berada di tengah.

Rumah harus cukup luas untuk kebutuhan penghuninya, tetapi tidak berlebihan.

Inilah mengapa tanah 150 meter persegi sebenarnya sangat menarik.

Luas tersebut memungkinkan kita bermain dengan banyak kemungkinan tanpa harus membuat rumah yang terlalu besar.

Kita dapat membuat rumah minimalis satu lantai.

Kita dapat membuat rumah dua lantai.

Kita dapat membuat taman kecil.

Kita dapat menyediakan carport.

Kita dapat membuat ruang keluarga yang terbuka.

Bahkan kita dapat memasukkan unsur rumah tropis dengan bukaan, teras, tanaman, dan ruang luar.

Yang menentukan bukan semata-mata ukuran tanah.

Yang menentukan adalah kualitas perencanaannya.

Interaksi Budget, Matahari, Sirkulasi, dan Aturan

Empat hal ini sebaiknya tidak dipikirkan sendiri-sendiri.

Bayangkan Anda memiliki budget terbatas.

Daripada menghabiskan banyak uang untuk fasad yang rumit, sebagian dana dapat dialihkan untuk membuat bukaan yang baik, teritis yang cukup, kualitas atap yang baik, dan sistem ventilasi.

Hasilnya mungkin tidak semewah rumah yang penuh ornamen.

Tetapi ketika rumah ditempati, manfaatnya terasa setiap hari.

Begitu pula dengan orientasi.

Jika posisi jalan membuat orientasi rumah tidak ideal terhadap matahari, bukan berarti desain menjadi gagal.

Kita dapat mengatur ulang posisi kamar, ruang servis, bukaan, kanopi, tanaman, dan dinding untuk mengendalikan panas.

Aturan setempat juga demikian.

Jika GSB membuat bagian depan rumah harus mundur, jangan menganggapnya hanya sebagai keterbatasan.

Area tersebut dapat dijadikan taman atau halaman depan sehingga rumah justru mendapatkan ruang terbuka yang lebih baik.

Dengan pendekatan seperti ini, keterbatasan dapat berubah menjadi bagian dari desain.

Rumah yang Nyaman Tidak Selalu Terlihat Mewah

Setelah beberapa waktu memikirkan persoalan rumah, saya justru sampai pada kesimpulan sederhana.

Rumah yang bagus bukan rumah yang paling mahal.

Rumah yang bagus adalah rumah yang ketika kita pulang, kita merasa nyaman berada di dalamnya.

Tidak terlalu panas.

Tidak pengap.

Cahaya siang cukup.

Kamar tidur tenang.

Dapur mudah digunakan.

Kamar mandi tidak lembap.

Barang-barang mempunyai tempat.

Ada sedikit ruang hijau untuk melihat tanaman.

Anak-anak memiliki tempat bermain.

Dan ketika malam tiba, ruang keluarga menjadi tempat berkumpul tanpa merasa sesak.

Itulah ukuran keberhasilan sebuah rumah.

Karena itu, jika saat ini Anda memiliki tanah 150 meter persegi, jangan terburu-buru mencari desain rumah yang paling cantik di internet.

Mulailah dengan memahami tanah Anda sendiri.

Ukur dimensinya.

Perhatikan arah jalan.

Lihat dari mana matahari pagi dan sore datang.

Perhatikan arah angin.

Tanyakan aturan bangunan yang berlaku.

Tentukan budget.

Kemudian buat daftar kebutuhan keluarga.

Setelah semua itu jelas, barulah desain rumah dibuat.

Dengan cara tersebut, rumah 150 meter persegi tidak hanya menjadi bangunan yang menarik ketika dilihat dari depan, tetapi juga menjadi rumah yang nyaman ketika benar-benar dihuni.

Pada akhirnya, rumah bukanlah soal berapa meter persegi bangunan yang berhasil kita dirikan.

Rumah adalah tentang bagaimana setiap meter persegi tersebut digunakan.

Jika direncanakan dengan baik, tanah 150 meter persegi dapat berubah menjadi rumah yang terasa jauh lebih besar daripada ukurannya—bukan karena bangunannya dipaksakan memenuhi seluruh lahan, tetapi karena ruang, cahaya, udara, dan aktivitas keluarga dirancang untuk saling mendukung.

Dan mungkin, di situlah letak rumah yang benar-benar berkelas: bukan pada seberapa mahal tampilannya, melainkan pada seberapa baik ia melayani kehidupan orang yang tinggal di dalamnya.

Tinggalkan komentar