Memilih rumah bukan hanya soal melihat bentuk bangunan, jumlah kamar, atau seberapa bagus tampilannya dari depan. Ketika sedang mencari rumah, kita sering kali lebih tertarik pada desain yang terlihat modern atau harga yang terasa cocok di kantong. Padahal, ada banyak hal lain yang baru terasa setelah rumah benar-benar ditempati.
Beberapa tahun lalu, ketika saya dan istri mulai serius mempertimbangkan rumah, kami sempat dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit: rumah bertingkat atau rumah satu lantai?
Ada rumah dua lantai yang terlihat menarik karena bisa mendapatkan banyak ruangan meskipun luas tanahnya tidak terlalu besar. Di sisi lain, ada rumah satu lantai yang desainnya lebih sederhana, tetapi terasa lega dan mudah digunakan.
Setelah dipikirkan cukup lama, kami menyadari bahwa memilih rumah bukan soal mana yang lebih bagus. Yang lebih penting adalah mana yang paling sesuai dengan kondisi keluarga sekarang dan beberapa tahun ke depan.
Dari pertimbangan tersebut, ada tujuh hal yang menurut saya penting diperhatikan sebelum memutuskan memilih rumah bertingkat atau satu lantai.
1. Pertimbangkan Kesehatan, Terutama Lutut dan Keseimbangan
Ini mungkin menjadi pertimbangan yang tidak terlalu diperhatikan ketika seseorang masih muda.
Naik tangga sekali atau dua kali mungkin tidak terasa berat. Namun, coba bayangkan jika aktivitas tersebut harus dilakukan berkali-kali setiap hari selama bertahun-tahun.
Lutut memiliki peran penting ketika kita naik dan turun tangga. Saat naik, tubuh harus mengangkat beban melawan gravitasi. Saat turun, lutut juga harus membantu menahan dan mengontrol berat tubuh. Bagi orang yang tidak memiliki masalah persendian, aktivitas tersebut mungkin biasa saja. Tetapi bagi seseorang yang mulai mengalami masalah lutut atau kekuatan kaki yang berkurang, tangga bisa menjadi bagian rumah yang cukup melelahkan.
Selain lutut, keseimbangan tubuh juga perlu diperhatikan.
Semakin bertambah usia, kemampuan menjaga keseimbangan bisa berubah. Kondisi tubuh yang sedang lelah, pusing, atau kurang stabil juga dapat membuat tangga terasa lebih berisiko. Karena itu, rumah bertingkat sebaiknya tidak hanya dilihat dari desainnya, tetapi juga dari kemampuan penghuninya menggunakan tangga dengan aman.
Rumah satu lantai mempunyai kelebihan dalam hal ini. Semua ruangan berada pada satu level sehingga aktivitas sehari-hari tidak membutuhkan naik-turun tangga.
Kalau di rumah ada orang tua, anggota keluarga lanjut usia, atau kita sendiri mulai merasa lutut tidak sekuat dulu, faktor ini layak mendapat perhatian serius.
Bukan berarti rumah bertingkat pasti tidak baik. Hanya saja, kita perlu memikirkan apakah tangga akan tetap nyaman digunakan lima, sepuluh, atau bahkan dua puluh tahun mendatang.

2. Hitung Biaya, Bukan Hanya Harga Awal
Rumah bertingkat sering dianggap lebih ekonomis karena kita bisa mendapatkan luas bangunan yang besar di atas tanah yang relatif terbatas. Pendapat tersebut memang ada benarnya.
Namun, jangan hanya menghitung harga tanah dan luas bangunan.
Bangunan dua lantai biasanya membutuhkan struktur yang lebih kompleks. Fondasi, kolom, balok, tangga, railing, dan berbagai elemen konstruksi lainnya perlu direncanakan dengan baik. Pekerjaan konstruksinya pun bisa lebih rumit dibandingkan rumah satu lantai dengan ukuran yang sama.
Setelah rumah selesai dibangun, masih ada biaya pemeliharaan.
Tangga, dinding, atap, kamar mandi di lantai atas, serta bagian-bagian bangunan lainnya perlu dirawat. Ketika terjadi kerusakan di tempat yang sulit dijangkau, pekerjaan perbaikannya juga bisa menjadi lebih merepotkan.
Rumah satu lantai umumnya memiliki konstruksi yang lebih sederhana sehingga pemilik lebih mudah memperkirakan kebutuhan biaya pembangunan dan perawatannya.
Tetapi tentu saja, biaya sebenarnya sangat tergantung pada luas bangunan, spesifikasi material, lokasi, desain, dan harga tenaga kerja.
Jadi, jangan bertanya hanya “rumah mana yang lebih murah?”
Lebih baik bertanya, “rumah mana yang paling sesuai dengan kemampuan biaya saya sekarang dan biaya perawatannya nanti?”
3. Sesuaikan dengan Luas Tanah
Luas tanah menjadi salah satu alasan paling kuat seseorang memilih rumah bertingkat.
Jika tanah yang tersedia terbatas, membangun ke atas memang menjadi solusi yang masuk akal. Misalnya, tanah hanya cukup untuk bangunan satu lantai dengan dua atau tiga kamar, sementara keluarga membutuhkan lebih banyak ruangan.
Dengan membuat lantai dua, kita dapat menambah kamar tidur, ruang kerja, ruang keluarga, atau ruang lainnya tanpa harus membeli tanah tambahan.
Sebaliknya, kalau memiliki tanah yang cukup luas, rumah satu lantai bisa memberikan kenyamanan yang berbeda.
Kita dapat memiliki halaman, taman, tempat bermain anak, teras yang lebih luas, atau ruang terbuka untuk berkumpul bersama keluarga.
Bagi saya, ruang terbuka juga memiliki nilai tersendiri. Rumah tidak terasa hanya terdiri dari dinding dan ruangan. Ada tempat untuk duduk di luar, menerima udara pagi, atau sekadar menikmati suasana sore.
Karena itu, jangan langsung menganggap rumah bertingkat lebih unggul hanya karena luas bangunannya lebih besar. Lihat keseimbangan antara luas tanah, luas bangunan, dan ruang terbuka yang tersisa.

4. Perhatikan Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah penghuni sangat menentukan kebutuhan rumah.
Pasangan yang tinggal berdua tentu memiliki kebutuhan ruang yang berbeda dengan keluarga yang memiliki dua atau tiga anak.
Rumah satu lantai sebenarnya bisa tetap nyaman untuk keluarga besar jika denahnya dirancang dengan baik. Namun, semakin banyak anggota keluarga, kebutuhan kamar dan ruang pribadi juga semakin besar.
Rumah bertingkat dapat memberikan pembagian ruang yang menarik. Misalnya, lantai bawah digunakan untuk ruang tamu, ruang makan, dapur, dan kamar untuk orang tua. Sementara lantai atas digunakan untuk kamar anak atau ruang keluarga.
Privasi menjadi lebih mudah diatur.
Tetapi ada konsekuensinya. Anak-anak kecil membutuhkan pengawasan ketika menggunakan tangga. Sebaliknya, ketika anak sudah remaja, lantai atas mungkin justru memberikan ruang pribadi yang mereka butuhkan.
Jadi, jangan hanya menghitung berapa orang yang tinggal sekarang. Pikirkan juga perubahan jumlah dan kebutuhan anggota keluarga dalam beberapa tahun ke depan.
5. Pertimbangkan Orang Tua dan Kerabat
Dalam keluarga Indonesia, rumah sering kali bukan hanya tempat tinggal pasangan dan anak-anak.
Ada kemungkinan orang tua tinggal bersama ketika sudah lanjut usia. Ada pula saudara atau kerabat yang sesekali membutuhkan tempat tinggal untuk sementara.
Hal seperti ini sebaiknya dipikirkan sejak awal.
Jika rumah bertingkat, orang tua yang kesulitan naik tangga mungkin akan lebih banyak beraktivitas di lantai bawah. Akibatnya, kamar yang nyaman untuk mereka sebaiknya memang berada di lantai bawah, begitu pula kamar mandi dan kebutuhan penting lainnya.
Kalau desain rumah tidak dipikirkan sejak awal, kita mungkin baru menyadari masalahnya setelah rumah ditempati.
Rumah satu lantai memiliki keuntungan karena hampir semua aktivitas dapat dilakukan tanpa hambatan tangga. Orang tua, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya dapat bergerak lebih mudah dari satu ruangan ke ruangan lain.
Bagi saya, rumah yang baik bukan hanya nyaman ketika kita sehat. Rumah juga sebaiknya tetap bisa digunakan ketika kondisi anggota keluarga berubah.
6. Seberapa Sering Rumah Menerima Tamu?
Ada keluarga yang hampir setiap minggu menerima saudara. Ada yang sering mengadakan acara keluarga. Ada pula yang rumahnya benar-benar menjadi tempat berkumpul teman dan kerabat.
Kalau rumah sering digunakan untuk menerima banyak tamu, rumah satu lantai bisa terasa lebih praktis.
Ruang tamu, ruang makan, dapur, dan teras dapat dibuat saling berhubungan. Tamu tidak perlu naik tangga hanya untuk berpindah ke ruangan tertentu.
Interaksi juga terasa lebih natural.
Rumah bertingkat sebenarnya tetap bisa sangat nyaman untuk menerima tamu. Area publik dapat ditempatkan di lantai bawah, sementara lantai atas menjadi area privat keluarga.
Namun, kita perlu mempertimbangkan pola kehidupan sehari-hari.
Kalau lantai atas sebagian besar hanya digunakan sebagai kamar yang jarang ditempati, sementara aktivitas keluarga hampir seluruhnya berlangsung di bawah, mungkin kita perlu bertanya kembali apakah tambahan lantai tersebut benar-benar dibutuhkan.
7. Pikirkan Kenyamanan Sekarang dan Masa Depan
Pertimbangan terakhir adalah sesuatu yang sering baru terasa setelah rumah ditempati: kenyamanan sehari-hari.
Coba bayangkan rutinitas biasa.
Bangun tidur, ke kamar mandi, membuat kopi atau sarapan, mengambil sesuatu di kamar, turun ke ruang keluarga, kemudian keluar rumah. Kalau semua berada dalam satu lantai, aktivitas tersebut terasa sederhana.
Di rumah bertingkat, aktivitas yang sama mungkin membutuhkan beberapa kali naik dan turun tangga.
Sekali dua kali tentu bukan masalah. Tetapi jika dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun, perbedaannya bisa terasa.
Yang lebih penting lagi adalah perubahan kondisi keluarga.
Anak-anak akan tumbuh. Orang tua akan bertambah usia. Kemampuan fisik kita juga tidak akan selalu sama. Rumah yang terasa sempurna ketika kita berusia 30 atau 40 tahun belum tentu sama nyamannya ketika usia sudah 60 tahun.
Karena itu, sebelum membeli atau membangun rumah, saya merasa penting untuk membayangkan kehidupan 10–20 tahun ke depan, bukan hanya kondisi saat ini.
Rumah Bertingkat atau Satu Lantai, Mana yang Lebih Baik?
Pada akhirnya, tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua orang.
Rumah bertingkat cocok bagi mereka yang memiliki lahan terbatas tetapi membutuhkan luas bangunan yang lebih besar, membutuhkan pemisahan area publik dan privat, atau menginginkan lebih banyak ruang tanpa membeli tanah tambahan.
Sementara itu, rumah satu lantai memiliki kelebihan dari sisi akses, kemudahan aktivitas sehari-hari, kenyamanan bagi anggota keluarga yang memiliki keterbatasan mobilitas, serta kemudahan bagi keluarga yang ingin mempertahankan ruang terbuka.
Kalau saya melihatnya dari pengalaman dan pertimbangan sehari-hari, memilih rumah sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “rumah mana yang lebih bagus?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Rumah mana yang paling cocok dengan kehidupan keluarga saya?”
Apakah lutut masih nyaman menggunakan tangga setiap hari? Apakah ada orang tua yang mungkin tinggal bersama? Apakah tanah yang tersedia cukup luas? Berapa jumlah anggota keluarga? Apakah rumah sering menerima tamu? Dan yang tidak kalah penting, apakah pilihan tersebut masih terasa nyaman ketika usia kita bertambah?
Rumah yang baik bukan selalu rumah yang paling besar, paling tinggi, atau paling mewah.
Rumah yang baik adalah rumah yang membuat penghuninya merasa nyaman menjalani kehidupan sehari-hari—sekarang maupun di masa yang akan datang.